BERILMU PENGETAHUAN TIDAK HARUS DI SEKOLAH DAN KULIAH


 
Ijazah dan Gelar Tidak Terbukti Menaikkan Indeks Pembangunan Manusia

 ARTIKEL 

Ditulis Oleh: Kang Ay Saefunnaim
 
Terinspirasi dari pemaparan Dr. Sigit, hasil penelitian dan studi banding di Tiongkok sebagai negara peradaban yang unggul dan maju
 
Dr. Sigit Apriyanto. S.Pd., M.Pd., C.PSE., CPW. Merupakan akdemisi di Universitas Indonesia Mandiri, hadir sebagai narasumber pada acara rutin Dialog Pentahelix Malam Kamisan yang diselenggarakan di Aula Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan temuan penting dari kunjungan dan kajiannya langsung ke Tiongkok, yang menjadi landasan pemikiran dalam tulisan ini.
 
Saat ini dunia telah memasuki tahap peradaban yang sangat maju, di mana segala jenis ilmu pengetahuan tidak lagi tersimpan rapat hanya di dalam ruang kelas atau perpustakaan besar. Melalui genggaman perangkat digital, informasi dan pengetahuan dari seluruh penjuru dunia dapat dijangkau dengan sangat mudah dan cepat, kapan pun dan di mana pun kita berada.
 
Bagi mereka yang tumbuh dengan pondasi agama dan keyakinan yang kokoh, makna belajar memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas. Jika aturan negara mewajibkan pendidikan dasar selama sembilan tahun, maka ajaran agama menempatkan kewajiban menuntut ilmu tanpa batas waktu dan syarat. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah lama dipegang teguh:
 
“Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, dinilai hasan)
 
Dalil Al-Qur’an dan Hadits Pendukung:
 
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)
 
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
 
“Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?”
(QS. Az-Zumar: 9)
 
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah No. 224, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
 
Bukti Sejarah dan Fakta Nyata: Ilmu Tidak Bergantung pada Sistem Kaku
 
Pemahaman ini bukan sekadar teori, melainkan terbukti nyata sepanjang sejarah, di lingkungan kita sendiri, maupun dalam pandangan para pengamat dan seniman. Wajar saja sepanjang peradaban manusia melahirkan ilmuwan dan tokoh sukses yang menjadikan alam raya, pengalaman hidup, dan rasa ingin tahu sebagai gurunya bukan lahir semata dari sekolah atau perguruan tinggi konvensional yang kita kenal saat ini.
 
Thomas Alva Edison hanya bersekolah selama tiga bulan; gurunya menganggapnya lambat dan sulit diatur, sehingga ia tersingkir dari sistem pendidikan masa itu. Namun, dididik sendiri oleh ibunya serta belajar secara otodidak dari buku, percobaan, dan pengamatan alam, ia berhasil menciptakan lebih dari seribu temuan penting. Bahkan penemuan lampu pijarnya akhirnya menerangi seluruh dunia, termasuk ruang kelas dan gedung sekolah yang pernah membuangnya.
 
Di Indonesia sendiri, kita mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Beliau mendidik anak-anaknya tanpa mengikuti sistem sekolah kolonial yang kaku, melainkan melalui Sistem Among yang menekankan kemerdekaan berpikir dan kesesuaian dengan kodrat alam. Hasilnya, putra-putrinya tumbuh menjadi pribadi berilmu dan mampu melanjutkan perjuangan mencerdaskan bangsa.

 
Saya meyakini bahwa keilmuan dan wawasan seseorang tidak sepenuhnya dibentuk di dalam ruang sekolah atau kuliah semata. Bahkan Bisa  Tumbuh di lingkungan pedesaan, dengan  banyak mengasah pikiran dan pemahaman melalui semangat literasi membaca, interaksi sosial yang luas, pengalaman berwirausaha, serta pengamatan langsung terhadap alam dan kehidupan masyarakat. Ilmu pengetahuan bisa di dapat dari, alam raya, kenyataan hidup, dan keinginan kuat untuk terus belajar menjadi “Berilmu”  jauh lebih dalamnya akan membentuk karakter serta kemampuan nyata. Inilah bukti bahwa kejayaan tidak ditentukan oleh seberapa rapi mengikuti kurikulum, melainkan oleh seberapa dalam menyerap makna ilmu dari segala sumber yang ada.
 
Refleksi dari Ahmad Dani: Sistem yang Salah Akan Mengantarkan pada Kehancuran
 
Melihat kenyataan dan kegagalan sistem pendidikan kita yang terus berjalan di tempat, saya pun teringat akan pandangan tajam yang dituangkan dalam lirik lagu karya Ahmad Dani, musisi kelahiran dan keturunan Kabupaten Garut. Beliau adalah putra dari Ahmad Manaf, politikus yang pernah menjadi wakil rakyat dari Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno.
 
Dalam salah satu karyanya, Ahmad Dani menulis kalimat yang sangat menusuk hati dan mengingatkan kita:
 
“Nasionalisme awal dari kehancuran bangsaku ini.”
 
Jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan saat ini, maknanya menjadi sangat jelas: nasionalisme yang sempit, dipaksakan, dan diseragamkan melalui sistem pendidikan yang kaku, tidak sesuai kodrat, serta hanya mengejar angka dan gelar justru menjadi bibit yang perlahan menggerogoti kemajuan bangsa.
 
Sistem yang seolah-olah membangun persatuan melalui keseragaman kurikulum, namun justru mematikan potensi lokal, memisahkan ilmu dari kenyataan hidup, dan mengubah tujuan belajar hanya demi mendapatkan ijazah, telah melahirkan generasi yang terdidik secara administrasi, namun lemah dalam pemikiran, keterampilan, dan jiwa pengabdian. Inilah yang dimaksudkan: ketika cara pandang terhadap ilmu dan kebangsaan sudah melenceng dari hakikatnya, maka jalan menuju kemunduran justru terbuka lebar.
 
Fakta Pendidikan di Lampung Selatan Saat Ini
 
Kondisi pendidikan di daerah kita sendiri memperkuat pandangan ini. Secara data, rata-rata lama sekolah masyarakat Lampung Selatan baru mencapai sekitar 7,78 tahun pada tahun 2025, masih di bawah standar nasional dan jauh dari cukup untuk membentuk kualitas keilmuan yang utuh. Banyak ruang kelas yang tidak layak, fasilitas terbatas, dan sistem pengajaran yang masih kaku serta seragam, meskipun anggaran pendidikan terus digelontorkan setiap tahunnya.
 
Namun yang paling penting adalah kenyataan bahwa meskipun jumlah sekolah dan lulusan terus bertambah, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung Selatan bergerak sangat lambat dan belum mencatat lompatan kemajuan yang berarti. Ini mempertegas satu fakta: banyaknya gedung, ijazah, dan gelar belum tentu menjamin kemajuan kualitas hidup masyarakat. Masih terdapat kesenjangan keterampilan, pengangguran terdidik, serta potensi alam dan budaya daerah yang belum tergarap secara maksimal.

Pelajaran dari Tiongkok: Lompatan Kemajuan dan Makna Pepatah Luhur
 
Sesuai hasil pengamatan dan penelitian Dr. Sigit saat melakukan studi banding ke Tiongkok, negara yang kini mencatat lompatan kemajuan paling pesat dalam sejarah modern ini membuktikan bahwa rahasia utamanya bukan pada jumlah ijazah yang dicetak, melainkan pada semangat dan cara pandang terhadap ilmu pengetahuan.
 
Hal ini sejalan dengan pepatah yang sangat masyhur:
 
“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”
 
Meskipun secara sanad riwayat peribahasa  ini dinilai lemah oleh sebagian ulama, namun makna dan substansinya tetap sahih serta selaras dengan ajaran universal: bahwa ilmu adalah harta yang paling berharga, layak diperjuangkan meskipun harus menempuh jarak jauh dan pengorbanan besar. Pada masa silam, Cina dikenal sebagai pusat peradaban maju, tempat ilmu pengetahuan berkembang pesat, sehingga menjadi simbol tujuan pencarian ilmu yang tanpa batas.
 
Kini, Tiongkok sendiri membuktikan makna pepatah itu melalui kenyataannya:
 
Orientasi yang benar: Ilmu diposisikan sebagai bekal membangun peradaban, bukan sekadar syarat untuk menduduki jabatan atau meningkatkan status sosial.
Kesetaraan jalur: Pendidikan akademik dan kejuruan dihargai setara; tidak ada satu jalur tunggal yang dianggap satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Belajar seumur hidup: Masyarakat didorong terus mengembangkan wawasan melalui sekolah, pengalaman kerja, lingkungan sosial, hingga akses digital tidak berhenti hanya saat lulus pendidikan formal.
Fokus pada manfaat: Apa yang dipelajari harus dapat diterapkan, memecahkan masalah nyata, dan mengangkat taraf kesejahteraan.

Hasilnya, tingkat literasi mencapai 97,33 persen, inovasi teknologi melesat, dan Indeks Pembangunan Manusia meningkat drastis hanya dalam beberapa dekade. Ini adalah bukti nyata bahwa ilmu yang dihayati dan diamalkan, bukan sekadar dikumpulkan dalam bentuk gelar, yang melahirkan kemajuan sejati.

Keberagaman Bukan Beban, Melainkan Kekuatan
 
Perlu kita sadari sepenuhnya: Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam—bukan untuk diseragamkan, melainkan dijadikan modal dan pondasi utama kemajuan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan sumber kekayaan yang melimpah.
 
Dalam konteks pendidikan, makna ini menjadi sangat jelas:
 
Tidak mungkin satu kurikulum dan satu cara belajar dapat cocok diterapkan secara seragam untuk seluruh wilayah Indonesia.
Setiap daerah memiliki kearifan lokal, potensi alam, dan kebutuhan hidup yang berbeda satu sama lain.
Keberagaman justru melahirkan berbagai cara mencari ilmu yang sesuai dengan kodrat dan kondisi lingkungan setempat.

Adakah Pemimpin yang Berani Berbeda?
 
Jika sistem yang ada terbukti tidak mampu mengangkat angka IPM meskipun banyak melahirkan pemegang ijazah, dan jika lirik Ahmad Dani mengingatkan kita bahwa cara pandang yang salah dapat menjadi awal kehancuran, maka timbul pertanyaan mendasar: adakah pemimpin daerah yang berani keluar dari cara pandang yang monoton dan sudah basi ini?
 
Jawabannya adalah ada, meskipun jumlahnya masih terbatas. Berikut adalah jejak keberanian yang telah ditunjukkan:
 
Bupati Barru, Sulawesi Selatan: Menerapkan kurikulum pendidikan mandiri yang berbasis pada potensi daerah dan kearifan lokal, bukan sekadar mengikuti aturan pusat secara kaku. Hasilnya, angka IPM meningkat lebih cepat dibandingkan daerah-daerah sekitarnya.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena: Membuka ruang bagi proses belajar yang berlangsung di luar ruang kelas dan membebaskan biaya pendidikan, agar akses terhadap ilmu tidak terhalang oleh kondisi ekonomi.
Kepala Daerah di Papua dan wilayah terpencil lainnya: Mengembangkan sistem Sekolah Adat dan Sekolah Kampung, di mana alam sekitar menjadi laboratorium dan tetua adat menjadi guru utama—sesuai dengan semangat ajaran Ki Hajar Dewantara.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi: Secara terbuka mengkritik keras sistem pendidikan yang terlalu teoretis dan jauh dari kenyataan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kesimpulan
 
Semua bukti sejarah, pelajaran dari negara maju, makna pepatah luhur, pandangan para seniman, data pendidikan serta tokoh lokal, dan kondisi nyata di tanah air menguatkan satu kebenaran utama:
 
Berilmu pengetahuan tidak harus selalu melalui jalur sekolah atau perguruan tinggi konvensional.
Ijazah dan gelar hanyalah bukti administrasi, bukan jaminan mutlak atas kualitas keilmuan seseorang.
Ijazah dan gelar semata tidak terbukti mampu menaikkan Indeks Pembangunan Manusia secara signifikan.
Hakikat ilmu adalah untuk dipahami, diamalkan, dan memberikan manfaat nyata bagi diri sendiri serta lingkungan sekitar.
Keberagaman budaya Indonesia adalah pondasi terbaik untuk membangun sistem ilmu yang lebih manusiawi dan efektif.
Semangat “tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” mengajarkan kita untuk mencari ilmu tanpa batas tempat, usia, maupun jalur pendidikannya.
Pandangan Ahmad Dani mengingatkan: keseragaman semu dan tujuan yang sudah menyimpang justru dapat menjadi awal kemunduran sebuah bangsa.
 
Sudah saatnya kita mengubah pola pikir dan cara pandang. Berikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap daerah termasuk Lampung Selatan untuk mengembangkan cara belajar yang sesuai dengan kondisi dan kearifan lokalnya masing-masing. Jangan menjadikan lembaran kertas sebagai tujuan akhir, melainkan jadikan ilmu sebagai bekal untuk menciptakan kemajuan yang nyata, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh bangsa Indonesia.
 
Tulisan ini disusun sebagai bahan renungan dan masukan bagi pengambil kebijakan serta seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap masa depan pendidikan dan kemajuan daerah.

Redaksi: Blbnewstv.id 

0 Komentar

Posting Komentar