KANG AY: Minta Bupati Evaluasi Kepemimpinan Kasat Pol PP Maturidi. "Terlalu Kaku, Kurang Peka, dan Cara Kerjanya Seperti Zaman Kolonialisme"

Tegas! Usai Viral Pengangkutan Dagangan Pedagang Dugan, Saefun Naim: Satpol PP Harus Jadi Penegak Keadilan, Bukan Sekadar Aturan
 
Blbnewstv.id – Lampung Selatan || , 15 Mei 2026 – Sorotan tajam kembali dilontarkan oleh Saefun Naim, sosok yang akrab disapa Kang Ay, menanggapi tindakan penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lampung Selatan di Trotoar Jalan Lintas Sumatra, Kalianda, pada Selasa (12/5/2026) lalu. Di tengah maraknya perbincangan di media sosial dan grup-grup masyarakat terkait tindakan pengangkutan seluruh peralatan pedagang dugan, Kang Ay tak hanyat memberikan masukan, namun secara tegas meminta Bupati Lampung Selatan untuk mengevaluasi kinerja dan kepemimpinan Kasat Pol PP, Maturidi Ismail.
 
Kang Ay menilai, cara kerja yang diterapkan oleh Maturidi Ismail selama memimpin Satpol PP dinilai terlalu kaku, berjalan di jalur prosedur saja tanpa hati nurani, dan sangat kurang memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta kondisi sosial masyarakat. Bahkan, ia menyamakan pola penindakan yang dilakukan dengan cara-cara kuno yang sudah tidak relevan lagi diterapkan di masa kini.
 
"Saya dengan tegas meminta kepada Bupati Lampung Selatan, agar segera melakukan evaluasi mendalam terhadap kepemimpinan Maturidi Ismail selaku Kasat Pol PP," tegas Kang Ay dalam pernyataan resminya, Jumat (15/5/2026).
 
Menurut Saefun Naim, tindakan mengangkut seluruh barang dagangan dan peralatan pedagang kecil—meskipun beralasan sudah diperingati sejak November 2025 dan berdasar Perda Nomor 3 Tahun 2000—tetaplah salah pendekatannya. Baginya, penegakan aturan tidak boleh mematikan hak hidup warga, apalagi warga kecil yang berjuang mencari nafkah halal.
 
"Maturidi ini terlalu kaku, cara berpikir dan bertindaknya kurang peka sama sekali terhadap rasa kemanusiaan. Dia hanya melihat aturan tertulis, tapi buta terhadap jeritan ekonomi rakyat. Cara-cara seperti ini, saya yakin Bupati kita pasti tidak setuju. Ini gaya kerja kuno, persis seperti zaman kolonialisme dulu, yang menganggap rakyat kecil tidak punya hak dan hanya boleh diam saja diatur sesuka hati," tegas Kang Ay dengan nada tinggi.
 
Kang Ay mengingatkan, bahwa zaman sudah berubah. Negara dan pemerintah dibentuk untuk melayani dan mengayomi, bukan untuk menindas. Satpol PP dibayar menggunakan uang rakyat, sehingga wajib hadir sebagai pelindung, bukan penindas.
 
"Zaman kolonial sudah lama berlalu. Kita sekarang adalah pemerintah yang lahir dari rakyat, untuk rakyat. Kalau cara kerjanya masih menggunakan pola pikir zaman penjajah, yang kaku, keras, dan tidak peduli nasib orang lain, maka sangat disayangkan. Dan saya yakin betul, Bupati kita yang dikenal sangat dekat dengan rakyat, pasti tidak akan setuju dan tidak merestui cara-cara seperti itu diterapkan di Lampung Selatan," tambahnya.
 
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Kang Ay kembali menegaskan pandangan dasarnya: "Satpol PP bukan hanya penegak Perda, tetapi harus menjadi penegak rasa keadilan dan mengedepankan kemanusiaan."
 
Ia tidak menampik bahwa trotoar harus bersih dan ada aturan yang harus dipatuhi. Namun, penindakan tegas harus dibedakan siapa pelakunya. Apakah itu oknum yang meresahkan masyarakat, atau warga kecil yang sekadar ingin makan.
 
"Pedagang dugan itu orang baik, mereka cari nafkah halal. Sudah susah cari uang, eh malah peralatannya dibawa habis. Di mana rasa kemanusiaannya? Di mana rasa keadilannya? Kalau alasannya sudah diperingati berbulan-bulan, pertanyaannya: solusi apa yang sudah diberikan? Lokasi baru yang ditawarkan itu layak tidak? Bisa jualan tidak di sana? Kalau hanya disuruh pindah tapi matikan rezekinya, namanya menyiksa, bukan menertibkan," kritiknya.
 
Kang Ay berharap, evaluasi yang diminta kepada Bupati ini menjadi langkah awal perubahan besar. Satpol PP Lampung Selatan di bawah pimpinan baru nantinya diharapkan bisa lebih luwes, lebih mengayomi, memegang teguh keadilan, dan meninggalkan cara-cara kaku yang berbau kolonialisme tersebut.
 
"Jangan sampai ada lagi kejadian warga kecil menangis karena dagangannya diangkut habis. Jadilah aparat yang ditakuti penjahat, tapi disayangi rakyat kecil. Itu pesan utama saya untuk Bupati, dan untuk seluruh jajaran Satpol PP," pungkas Saefun Naim. (YONI)

0 Komentar

Posting Komentar