Blbnewstv.id — Lampung Selatan || – Pertemuan rutin bergaya dialog terbuka yang digelar setiap malam Kamis di Rumah Dinas (Rumdin) kembali berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Dalam pertemuan kali ini yang mengusung konsep sinergi Pentahelix—melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media—acara menghadirkan narasumber utama, yakni Kepala Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Junaedi Mulyo. Kehadiran beliau menjadi sumber inspirasi dan rujukan strategi pembangunan bagi seluruh peserta yang hadir.
Kegiatan ini merupakan gagasan dan inisiatif tokoh akademisi sekaligus pengamat pembangunan daerah, Ir. Toto Priyatna. Sejak awal digulirkan, forum malam Kamisan ini bertujuan mulia: menjadi wadah resmi untuk menggali potensi besar Kabupaten Lampung Selatan, memaksimalkan setiap ide, serta merumuskan gagasan terbaik agar bisa diterapkan nyata demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Dialog strategis ini dihadiri lintas elemen pembangun daerah. Turut hadir antara lain: Ketua APDESI (Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia), Ketua Karang Taruna Kabupaten Lampung Selatan Sahirul Hidayat, Sekretaris Daerah (Sekda), para perwakilan mahasiswa, serta para tokoh pengusaha lokal yang berperan penting dalam perekonomian daerah.
Satu sosok yang selalu menjadi pusat kekuatan dan penyangga utama keberhasilan acara ini adalah Pak Erdiansyah. Beliau disebut selalu menjadi sentral yang menguatkan setiap pelaksanaan kegiatan, memastikan diskusi berjalan lancar, menyatukan berbagai elemen yang hadir, dan menjembatani setiap gagasan agar terarah dan produktif.
Ir. Toto Priyatna menjelaskan, konsep Pentahelix dipilih karena pembangunan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. “Di sini kita satukan kekuatan: ada pemerintah, pemuda, pengusaha, akademisi, mahasiswa, dan pemangku pemerintahan desa lewat APDESI. Semua ide dikumpulkan, disaring, dicari yang paling pas untuk Lampung Selatan. Tujuannya satu: potensi kita tidak terbuang, tapi berubah jadi kesejahteraan nyata,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi interaktif, Sahirul Hidayat selaku Ketua Karang Taruna Kabupaten Lampung Selatan turut aktif menyampaikan pertanyaan penting yang mewakili seluruh elemen pemuda di daerah ini. Beliau secara khusus meminta kiat, strategi, dan kunci utama peran pemuda serta Karang Taruna yang telah diterapkan di Desa Ponggok hingga bisa membawa desanya menjadi sangat maju dan mandiri.
"Pak Junaedi, kami dari Karang Taruna sangat ingin tahu dan belajar. Apa saja tips, kunci, dan peran strategis apa saja yang seharusnya dimainkan oleh pemuda dan Karang Taruna di desa? Bagaimana cara pemuda bisa masuk dan berkontribusi besar dalam pembangunan seperti yang terjadi di Desa Ponggok?" tanya Sahirul Hidayat di hadapan seluruh peserta.
Menjawab pertanyaan tersebut sekaligus memaparkan materi utamanya, Junaedi Mulyo—yang dikenal sukses mengubah Desa Ponggok dari tertinggal menjadi desa mandiri dan sejahtera—berbagi kunci utama keberhasilan pembangunan, mulai dari peran pemuda, strategi ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan desa.
Merespons langsung pertanyaan dari Sahirul Hidayat, Junaedi Mulyo menegaskan bahwa pemuda adalah tulang punggung kemajuan desanya. "Kunci utama di Ponggok ada di pemuda. Karang Taruna tidak kami jadikan sekadar organisasi sosial atau pengisi waktu luang saja, tapi kami jadikan sebagai garda terdepan penggerak ekonomi dan pelaksana program desa. Tipsnya sederhana: berikan pemuda kepercayaan, berikan tanggung jawab nyata, libatkan mereka dalam pengelolaan aset dan usaha desa, serta berikan ruang bagi ide-ide baru mereka. Pemuda itu punya tenaga, punya gagasan segar, dan punya keberanian. Kalau Karang Taruna diajak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam mengelola desa, percayalah, kemajuan akan datang dengan cepat," ungkap Junaedi Mulyo penuh semangat.
Selain membahas peran strategis pemuda, Junaedi juga menekankan dua hal fundamental lain yang menjadi pondasi kekuatan desanya.
Pertama, beliau menyoroti kekuatan ekonomi yang bersumber dari kebutuhan masyarakat sendiri. “Kalau kita petakan kebutuhan warga, lalu putar dan fokuskan aliran pembelanjaannya di lingkungan sendiri, dampaknya luar biasa besar,” papar Junaedi.
Beliau memberi gambaran nyata: “Coba hitung, kalau satu kepala keluarga saja rata-rata belanja satu atau dua juta rupiah per bulan untuk kebutuhan pokok. Kalau uang itu berputar, dibelanjakan, dan dikelola di lingkungan kita sendiri, kekuatan ekonomi yang tercipta itu tidak main-main. Kebutuhan masyarakat adalah pasar terbesar kita, dan di situlah kunci kemandirian ekonomi daerah.”
Kedua, Junaedi Mulyo mengaskan dengan tegas bahwa data yang akurat di tingkat desa adalah pondasi utama pengembangan, yang di dalamnya tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
“Jangan pernah buat program atau rencana kalau datanya belum benar. Data yang rinci, lengkap, dan valid itu pondasi segalanya. Kalau datanya keliru, maka semua anggaran, semua rencana, semua kebijakan kita pasti meleset sasaran. Data itu peta jalan kita; kalau petanya salah, kita pasti tersesat. Tidak boleh ada keliru sedikit pun dalam pencatatan data warga maupun potensi wilayah,” tegasnya di hadapan seluruh peserta.
Pemaparan dan diskusi mendalam ini disambut antusias dan persetujuan penuh. Sahirul Hidayat dan para peserta lainnya sepakat bahwa arahan dari Desa Ponggok sangat jelas: kemajuan desa sangat bergantung pada peran aktif pemuda, penguatan ekonomi lokal, serta tata kelola berbasis data yang akurat dan benar.
Forum dialog malam Kamisan ini akan terus digelar berkelanjutan. Berbagai praktik sukses seperti yang diterapkan Junaedi Mulyo di Desa Ponggok, mulai dari pemberdayaan Karang Taruna hingga pengelolaan data dan ekonomi desa, akan dikaji, diadaptasi, dan disesuaikan dengan karakteristik Lampung Selatan. Kehadiran elemen lengkap serta kekuatan penggerak seperti Pak Erdiansyah menjadi jaminan bahwa setiap ide yang lahir akan segera diterjemahkan menjadi langkah nyata demi membangun ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa yang tepat guna. (Red..)
.png)
0 Komentar