Artikel: PERAHU KUMUH TNI AL ITU YANG MENEMUKAN HARAPAN

Artikel:
PERAHU KUMUH TNI AL ITU YANG MENEMUKAN HARAPAN                      

Oleh: Kang Ay Penjual Pop Mie Di Bintaro Beach.

Blbnewstv.id || – Cerita Ini Saya Tulis Sebagai Penghormatan Bagi Gabungan Tim SAR Yang Berjuang Mencari Korban Tenggelam Di Pantai Batu Rame.
                                               
Sore hari tanggal 24 Maret, ketika waktu Asyar sudah mulai menjelang, saya berdiri di tepi Pantai Bintaro yang baru saja dibuka selama 4 hari sebagai destinasi wisata. Udara sore yang sedikit lembap bercampur dengan aroma garam laut menyapa wajah saya. Sebagai salah satu pekerja di sini, keselamatan pengunjung adalah hal yang tidak bisa saya kompromikan sama sekali. Seperti biasa, saya mengambil pengeras suara dan mulai menyuarakan peringatan dengan nada yang tegas namun penuh perhatian:
 
"Woiiii... para wisatawan sekalian! Mohon segera menepi ke pinggir pantai! Air laut mulai pasang, jangan sampai terlambat!"
 
Suara saya bergema di sepanjang bibir pantai, berusaha bersaing dengan gemuruh ombak yang mulai makin keras. Di seberang perbatasan Pantai Bintaro dengan Pantai Baturame – sebuah kawasan yang belum terkelola dan sudah beberapa kali menjadi tempat tragis tenggelamnya orang – saya melihat pemandangan yang membuat hati saya sedikit tertekan. Puluhan orang, kebanyakan remaja, masih dengan riang bermain dan berenang di tengah laut, seolah tidak menyadari bahaya yang mengintai. Mereka seakan melihat kondisi di Pantai Bintaro sebagai bukti bahwa pasang air laut tidak berbahaya, padahal kedua pantai memiliki karakteristik ombak yang sama sekali berbeda.
 
Beberapa menit kemudian, saya arahkan pengeras suara khususnya ke arah gerombolan remaja itu: "Woiiii kamu yang di tengah sana! Cepat aja keluar! Air sudah mulai naik tinggi, ini bukan main-main!" Jarak lebih dari 500 meter mungkin membuat suara saya tidak terdengar jelas di tengah desisan ombak dan suara tawa mereka. Saya berteriak berkali-kali, tapi mereka tetap saja sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Akhirnya, saya hanya bisa menghela napas dalam-dalam dan berpikir, "Ya sudah, bodo amatlah..." meskipun di dalam hati masih tetap merasa khawatir karena rasa kemanusiaan yang tidak bisa saya matikan begitu saja.
 
Setelah memastikan bahwa semua pengunjung Pantai Bintaro sudah berada di tempat yang aman dan menepi ke pinggir, rasa lega sedikit menghangatkan hati saya. Saya lalu memanggil rekan saya yang bertugas di pos pantau: "Kakang, saya dulu ngopi sebentar di kantin ya. Kamu lanjut aja menjaga ya!"
 
Kelelahan setelah berjam-jam menjaga dan berteriak mulai menyerang tubuh saya. Di kantin kecil yang berada tidak jauh dari pantai, saya mencium aroma kopi hangat yang menggoda. Saya segera menuangkan secangkir kopi dan mengambil sebatang rokok untuk sekadar melepaskan lelah. Hanya beberapa saat saya bisa menikmati kedamaian itu, ketika tiba-tiba suara keras dari arah loket membuat saya terkejut:
 
"Kang! Ada yang tenggelam di pantai sebelah!"
 
Suara itu datang dari Bos Dwiki Darmawan, pemilik Pantai Bintaro. "Astagfirullah..." ucap saya dengan nada terkejut, tubuh saya langsung menjadi kaku mendengar berita buruk yang memecah suasana santai tadi. Tanpa berpikir panjang, saya segera berlari kembali ke arah pantai, sambil terus memastikan dalam hati bahwa korban yang tenggelam bukanlah salah satu pengunjung Pantai Bintaro. Dari kejauhan, sekitar satu kilometer dari lokasi saya, saya melihat kerumunan orang yang berkumpul di tepi Pantai Baturame.
 
Setelah memastikan bahwa kejadian benar-benar terjadi di luar area Pantai Bintaro dan korban bukanlah pengunjung kami, saya segera mengambil kembali pengeras suara untuk menenangkan para wisatawan yang mulai menunjukkan tanda khawatir: "Mohon tenang semua! Kejadian terjadi di pantai sebelah, silakan tetap berada di area yang aman dan jangan mendekati tepi air!"
 
Ketika saya kembali ke kantin, saya melihat beberapa mobil damkar sudah berada di depan loket. Pak Rully, salah satu petugas damkar yang saya kenal, tampak sangat antusias dan sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan upaya pencarian. Seiring berjalannya waktu, hari mulai menjelang malam dan langit mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan. Tak lama kemudian, rombongan dari Basarnas, Kapolsek Kalianda beserta jajarannya, Danramil Kalianda, Camat Kalianda, Kadis Damkar, Lurah Way Urang, Polairut Polda Lampung Selatan, dan juga anggota TNI AL tiba di lokasi. Mereka semua berkumpul dengan tujuan yang sama – menyelamatkan nyawa atau menemukan korban dengan penuh rasa tanggung jawab.
 
Kita kemudian mengetahui bahwa korban yang tenggelam bernama Syafik, seorang siswa SLTP Dua Kalianda yang tinggal di Kecamatan Way Panji. Mendengar nama dan identitas korban, rasa iba menyelimuti hati saya – seorang anak muda yang seharusnya masih memiliki masa depan yang panjang, kini terjebak dalam bahaya yang tak terduga.
 
Melihat kondisi jalan menuju lokasi kejadian yang hanya berupa jalan setapak dan sangat sulit diakses, pemilik Pantai Bintaro, Pak Dwiki, dengan senang hati mengizinkan agar area Pantai Bintaro digunakan sebagai posko pencarian. Ini adalah langkah yang tepat karena akses di sini jauh lebih baik dan memudahkan untuk koordinasi antar tim.
 
Di tengah suasana musibah yang menyayat hati, saya merasa bangga dan sedikit haru melihat bagaimana para petugas dari berbagai instansi bisa bekerja sama dengan sangat kompak. Meskipun waktu itu hampir menjelang hari raya Lebaran – saatnya dimana sebagian besar orang ingin berkumpul bersama keluarga – mereka dengan rela meninggalkan kenyamanan itu untuk menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia.
 
Saya menyaksikan mereka berkumpul di halaman depan kantin untuk melakukan briefing. Suasana menjadi sangat serius namun penuh semangat, setiap orang mendengarkan arahan dengan seksama dan siap memberikan kontribusi terbaik mereka. Setelah briefing selesai, tidak lama kemudian tim gabungan tersebut mulai bergerak untuk menyisir seluruh pantai mulai dari ujung Pantai Baturame hingga beberapa kilometer ke arah lain.
 
Malam semakin larut, cuaca menjadi semakin dingin dan gemuruh ombak makin menggelegar. Sekitar pukul 3 pagi, Kapolsek Kalianda memutuskan untuk sementara menghentikan pencarian agar tidak menimbulkan bahaya bagi para petugas yang sudah bekerja keras sepanjang malam. Para pemimpin dari masing-masing instansi – Kapolsek, Danramil, Camat, Kadis Damkar, Polairut, dan perwakilan TNI AL – berkumpul di kantin kami. Saya dengan senang hati menyajikan hidangan sederhana dan minuman hangat untuk mereka, sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras mereka. Sambil makan dan beristirahat sebentar, mereka mulai membahas dan mengatur tugas serta jam berjaga untuk keesokan harinya. Meskipun suasana masih berat karena belum menemukan korban, namun rasa kekeluargaan dan solidaritas yang terjalin di antara mereka membuat suasana menjadi lebih hangat.
 
Kelelahan yang luar biasa membuat saya tidak sadar tertidur di emperan kantin. Ketika saya terbangun, matahari sudah mulai bersinar dan saya melihat bahwa rombongan dari Pemkab Lampung Selatan yang diwakili oleh Pak Sekda sudah berkumpul di kantin. Mereka datang untuk memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan dengan baik dan memberikan dukungan penuh untuk upaya pencarian. Bahkan Pak Sekda secara langsung menyatakan bahwa kantin bisa digunakan secara bebas oleh para petugas tim gabungan dan keluarga korban yang sudah semalaman menunggu dengan penuh doa dan harapan agar Syafik segera ditemukan.
 
Dari pukul 8 pagi hingga menjelang waktu Duhur, tim gabungan kembali melakukan penyiraman pantai dengan lebih teliti. Setiap meter persegi pantai dan laut diperiksa dengan cermat, tidak ada satu pun sudut yang terlewatkan. Keluarga korban yang berada di posko terus berdoa sambil menunggu kabar, wajah mereka penuh dengan harap dan kesedihan yang tak terlukiskan.
 
Sekitar pukul 13.30, ketika matahari sedang tinggi dan panas menyengat, tiba-tiba terdengar teriakan yang bergemuruh dari arah laut: "Korban ditemukan! Korban ditemukan!"
 
Ternyata, korban ditemukan oleh anggota TNI AL yang menggunakan perahu untuk menyisir area laut. Perahu itu bukanlah perahu yang megah atau terawat dengan baik – warnanya sudah pudar dan bahkan sebagian permukaannya belum pernah dicat, terlihat kumuh dan penuh dengan bekas kapur serta lumut laut. Namun, perahu yang sering dianggap sepele itu justru menjadi alat yang membawa harapan bagi keluarga korban.
 
Segera setelah itu, semua tim – mulai dari Damkar, Polsek, Polairut, Basarnas, BPBD, hingga Danramil – bekerja sama dengan sangat kompak untuk mengangkut jenazah Syafik dari perahu menuju pantai, kemudian dibawa ke tempat penampungan sementara yang telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan Lampung Selatan di Pantai Bintaro. Setiap orang saling membantu tanpa memandang dari instansi mana mereka berasal.
 
"Alhamdulillah, akhirnya ditemukan juga..." bisik saya dalam hati, rasa lega dan kesedihan bercampur menjadi satu. Saya merasa sangat bersyukur karena upaya yang luar biasa dari semua pihak telah memberikan hasil, meskipun yang ditemukan bukanlah korban dalam keadaan hidup. Namun, setidaknya keluarga bisa mendapatkan keadilan dan bisa menguburkan Syafik dengan layak.
 
Perasaan bangga kembali menghangatkan hati saya ketika melihat bagaimana para pemangku kebijakan dan petugas bisa bekerja sama dengan begitu erat dan penuh rasa tanggung jawab. Mereka benar-benar menunjukkan bahwa tugas kemanusiaan adalah hal yang utama dan harus didahulukan.
 
Saya kemudian mendekati Pak Danramil Kalianda, Pak Tatang, yang sedang berbincang dengan seorang perwira TNI AL yang dikenalnya sebagai Pak Yosy. Saya bertanya dengan rasa penasaran: "Pak, tadi komandan yang menemukan korban dengan perahu itu siapa ya?"
 
Pak Tatang kemudian menunjuk ke arah Pak Yosy sambil sedikit tertawa: "Nih, ini anggotanya Pak Yosy dari AL. Baru saja dia selesai sholat lalu langsung menemukan korban."
 
Pak Yosy kemudian mengangguk dengan bangga: "Iya kang, Allah SWT yang memberikan kemudahan. Tugas mulia ini akhirnya membawa hasil."
 
Saya kemudian sedikit canda: "Ohhhh, jadi perahu yang kumuh itu ya? Yang belum pernah dicat sama sekali?"
 
Pak Yosy tertawa lepas dan menjawab: "Ahh kang bisa aja bilang begitu! Meskipun perahunya tidak terlihat menarik, tapi dia sangat handal dan menjadi alat penting dalam pencarian hari ini."
 
Kata-katanya membuat kami semua tertawa bersama, meskipun suasana masih tetap berat karena musibah yang terjadi. Namun, tawa itu menjadi sedikit penghangat hati dan menunjukkan bahwa di tengah kesedihan, kita masih bisa menemukan kehangatan dan persahabatan yang tulus.
 
Perahu yang dulu saya lihat sebagai sesuatu yang kurang menarik dan kumuh, kini telah menjadi simbol bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bahkan tidak menarik bisa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bukan penampilan yang menjadi penting, melainkan niat dan kegunaannya yang sesungguhnya. Dan pada hari itu, perahu TNI AL yang belum dicat itu telah memberikan kontribusi besar dalam sebuah misi kemanusiaan yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.


0 Komentar

Posting Komentar