Blbnewstv.id – Lampung Selatan | Monumen Pahlawan Lampung berdiri gagah di Jalan Lintas Sumatera, Ke jalan Kolonel Makmun Rasyid, namun kondisinya kini memprihatinkan. Pada malam hari, kawasan ini tampak gelap, hanya diterangi lampu Kendaraan disaat melintas. Banyak warga bahkan hanya melintas tanpa sempat menoleh.
“Sayang sekali, monumen segagah ini dibiarkan sepi dan gelap. Padahal dikenang perlawanan Pahlawan Lampung melawan penjajah Belanda," ujar Salah satu masyarakat Lampung Selatan.
Monumen Pahlawan Nasional Indonesia Raden Intan ll, dibangun untuk mengenang perjuangan Raden Intan kepada Belanda pemuda yang gagah berani melawan penjajah meski berakhir dengan Kematian Karena ada penghianatan.
Patung pahlawan Raden Intan ll di monumen ini menggambarkan kegigihan nya membela tanah Lampung, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan. Namun, atmosfer heroik itu tak terasa saat monumen tenggelam dalam gelap. Banyak masyarakat Lampung Selatan yang kecewa karena suasana kawasan tidak sesuai dengan semangat perjuangan.
Lingga menilai, pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sepertinya setengah hati merawat ikon sejarah ini. Penerangan seadanya membuat monumen sulit dinikmati di malam hari. Ini akibat Pemkab Lampung Selatan tidak ada rasa cinta kepada Tanah Lampung Selatan itu sendiri.
"Monumen ini seperti hidup segan mati tak mau. Ada, tapi tidak jadi kebanggaan. Padahal potensinya sangat besar," ungkap Lingga. Jika menengok kota lain, banyak monumen bersejarah yang ditata dengan baik dan menjadi magnet wisata. Misalnya Tugu Yogyakarta yang selalu terang benderang dan jadi titik berkumpul masyarakat.
Bandingkan dengan Monumen Pahlawan Nasional Indonesia Raden Intan ll di kota Kalianda Lampung Selatan yang justru tampak suram. Tak jarang, para pengunjung luar bahkan tidak sadar bahwa di tengah kota terdapat monumen perjuangan nasional.
“Seharusnya monumen sebesar ini bisa jadi landmark/bangunan yang mudah dikenali, bukan malah terlupakan. Pemkab perlu menaruh perhatian lebih,” tambah Lingga.
Monumen Raden Intan ll bukan sekadar tumpukan beton atau perunggu. Ia adalah simbol keberanian pemuda Lampung melawan penjajahan Belanda.
Ironisnya, semangat yang seharusnya menyala kini justru teredam dalam kegelapan. Banyak anak muda Lampung Selatan, bahkan lebih akrab dengan mal dan kafe, dibandingkan monumen ini.
“Ini soal kebanggaan lokal. Kalau monumennya saja tidak dipedulikan, bagaimana generasi sekarang bisa menghargai sejarah?” tegas Lingga.
Disisi lain ada tugu kebanggaan yaitu simbol Lampung Selatan, lebih di kenal tugu Pancasila, disini ada potensi ekonomi yang ikut hilang. Padahal, jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menarik wisatawan. Dari acara budaya, festival musik, bisa digelar di sini.
Tapi selama kawasan masih gelap dan semrawut, kecil kemungkinan Monumen Raden Intan ll dan tugu simbol Lampung Selatan jadi daya tarik. Warga hanya datang sebentar, lalu pergi tanpa kesan berarti.
“Padahal lokasi strategis. Kalau hidup, bisa jadi pusat kegiatan warga Kalianda khususnya warga Lampung Selatan. Sekarang yang ada hanya jadi tempat lewat,” tambahnya.
Sorotan publik terhadap kondisi monumen ini diharapkan sampai ke telinga Pemkab Lampung Selatan. Tidak cukup hanya memberi lampu jalan seadanya. Yang dibutuhkan adalah perhatian serius agar monumen jadi simbol hidup, bukan bangunan mati. Dari tata cahaya, pengaturan PKL, hingga promosi sejarah.
“Kalau dibiarkan terus, Monumen pahlawan Nasional Raden Intan ll ini hanya akan jadi foto lama di buku sejarah. Padahal di sini ada jiwa perjuangan anak muda Lampung,” tutup Lingga. (Yoni)
.png)
0 Komentar